Sajak merupakan karya sastra karangan layaknya puisi dan berisikan tentang luapan hati seseorang. Baik berupa masalah, pengalaman hingga curahan hati disebut dengan sajak. Dalam penulisannya tidak ada aturan namun pemilihan diksinya harus diperhatikan. Bagaimana jika sajak yang ditulis merupakan Sajak Sunda? Apakah ada aturan yang sama dengan sajak Bahasa Indonesia pada umumnya? Untuk menjawab rasa penasaran, simak ulasan berikut.

Mengintip Sejarah Sajak Berbahasa Sunda Yang Sempat Ditolak

Sebenarnya, sajak dalam kebudayaan Sunda sendiri dahulu tidak familiar. Bahkan sajak dahulu mendapatkan penolakan dalam masyarakat Sunda, terutama para sesepuh. Para sesepuh beranggapan jika karya sastra ini memiliki pengaruh dengan bahasa asing, tidak sesuai dengan adab yang ada dan sebagainya. Hingga akhirnya di tahun 1964, Kis Ws menulis sajak berbahasa Sunda pertama kali. Sajak ini bukan karya sampakan, dan pengaruhnya dari sastra sendiri,

Meskipun yang menulis sajak pertama kali adalah Kis Ws, tetapi yang memperjuangkan adalah Wahyu Wibisana. Beliau menuliskan kembali saja tersebut dalam sebuah artikel yang kemudian di muat pada majalah Warga dan juga surat kabar Sipatahoenan sekitar tahun 1955. Wahyu Wibisana dan pemuda lainnya bisa dikatakan sebagai pejuang hidupnya sajak Sunda pada saat itu. Hingga akhirnya sajak berhasil di terima oleh masyarakat.

Unsur Unsur Yang Terdapat Dalam Sajak Berbahasa Sunda

Dalam membaca atau membawakan sajak, ada beberapa yang harus diperhatikan. Jika unsur dalam karya sastra sajak tidak terlalu diperhatikan, maka dalam karya sastra Sunda ini ada beberapa yang harus digarisbawahi. Tidak terlalu banyak, namun cukup membangun sebuah sajak yang indah. Dan untuk unsur unsur sajak dalamĀ  bahasa Sunda tersebut antara lain adalah, pikiran, gaya, rasa dan maksud. Keempat unsur tersebut harus diperhatikan.

Pikiran yang dimaksudkan adalah suatu ide dari sang penulis sajak. Entah itu merupakan pengalaman pribadi atau orang lain yang kemudian dituangkan dalam bentuk karangan dengan sajak. Setelah pikiran adalah rasa atau feeling yang berkaitan dengan perasaan sang penyajak atau orang yang membawakan sajak tersebut. Perasaan inilah yang nantinya menguatkan, ada perasaan marah, semangat, sedih hingga bahagia yang dituangkan di dalamnya.

Selain rasa dan pikiran, unsur selanjutnya adalah gaya atau tone. Gaya yang dimaksudkan adalah gaya dari pembawa sajak sendiri. Terdapar gaya romantis, kritis, humoris, realistis dan juga sukacinta. Hal ini akan membuat sajak yang disampaikan semakin indah. Dan unsur terakhir dalam Sajak Sunda adalah maksud atau yang dikenal dengan amanat. Apa yang ingin disampaikan penyajak kepada para pendengarnya.

Luapan perasaan seseorang yang ditulis menjadi karangan yang indah dikenal dengan sajak. Tidak hanya dalam sastra Indonesia, sajak juga bisa menggunakan bahasa daerah seperti bahasa Sunda. Menjadikan karya sastra Indonesia semakin kaya dan beragam. Dengan mengenali sejarah dan unsurnya, diharapkan bisa membantu untuk memahami tentang sajak bahasa Sunda lebih mudah.